Last Updated 2019-10-14T04:11:47Z
Hatchery Tarakan
TARAKAN, penakaltara.com | Tingginya minat serta daya beli masyarakat baik dalam maupun luar negeri terhadap kepiting bakau disebut-sebut mampu menjadikan jenis ikan dengan nama latin Scylla Seratta itu berada dalam ancaman kepunahan. Hal itu disinyalir karena lemahnya pengawasan atas kegiatan penangkapan kepiting yang dilakukan oleh para nelayan. Tak ingin terlarut dalam persoalan "tangkap-menangkap" kepiting yang ujungnya terancam pula "ditangkap" itu, dan juga guna melepaskan kepiting dari ancaman kepunahan tersebut, sekelompok Nelayan Tarakan secara swadaya menggagas pembangunan tempat pembenihan kepiting (Hatchery) di Tarakan  

Nelayan Tarakan yang tergabung dalam 'Koperasi Produsen Nelayan Kaltara' (Koperasi PNK) ini menargetkan Hatchery tersebut akan dapat segera beroperasi mulai bulan depan (November 2019 -Red.). Ketua Koperasi PNK, Eddy Purwanto, mengatakan bahwasanya keberadaaan hatchery kepiting ini dapat menjadi solusi untuk menekan penangkapan kepiting langsung dari alam sehingga keberlangsungan habitatnya dapat terjaga. "Setidaknya dengan adanya hatchery ini dapat mengurangi penangkapan kepiting langsung dari alam," katanya saat dikonfirmasi awak media ini melalui pesan singkat Whatsapp, Minggu (13/10).

Menurut Eddy, dengan berkurangnya penangkapan kepiting langsung dari alam tersebut maka tentu saja kesalahan-kesalahan atas penangkapan serta distribusi kepiting untuk konsumsi masyarakat dapat diminimalisir sedemikian rupa. "Sebab semuanya sudah kami sesuaikan dengan batasan-batasan yang telah ditetapkan dalam perundang-undangan baik soal penangkapan maupun pengeluarannya, kalau sudah begitu ancaman kepunahan ya jauhlah," tukasnya.

Sayangnya, lanjut Eddy, Instalasi Pembenihan Kepiting di Indonesia, memang masih sangat minim. Adanya hatchery yang dijawat oleh Koperasi PNK ini tercatat barulah hatchery ketiga yang berhasil dibangun dari banyaknya Provinsi dan Kota di Indonesia yang kondisi geografisnya meliputi perairan dan komunitas pencari nafkahnya berprofesi sebagai Nelayan setelah Takalar - Sulawesi Selatan dan Jepara -  Jawa Tengah . "Memang belum mampu secara total menjaga kelestarian sumber daya secara nasional, akan tetapi setidaknya terkhusus Kaltara, dapat terselamatkan dan terjaga kelestariannya (Kepiting Bakau-Red)," tuturnya. 

Secara Teknis, Robinsar Harungguan Aritonang selaku Sekretaris Koperasi PNK mengungkapkan bahwasanya teknologi yang digunakan terhadap operasi hatchery ini tidak seluruhnya menyadur desain dari Jepara atau Takalar. Karena disamping mempertimbangkan kondisi alam di Kaltara, soal pembiayaan juga tidak memadai jika mengikuti desain di Jepara. "Jadi instalasi kita kombinasi, alam dan Hatchery,” jelas Robin saat ditemui di Sekretariat Koperasi PNK di bilangan Karang Anyar Pantai, Minggu (13/10).

Robin, Sekretaris Koperasi PNK, di Sekretariat, Karang Anyar Pantai
Nantinya, kata pria yang akrab disapa Robin ini kepada wartawan,  hatchery dari Koperasi PNK ini akan dicatatkan ke Dinas Perikanan untuk mendapatkan sertifikat Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) di Kementrian Perikanan dan Kelautan. Sebelumnya, sudah ada  tim dari Ditjen yang berkunjung untuk survey hatchery Koperasi PNK. 

“Katanya, teknologinya ada dulu. Setelah itu baru diberikan sertifikatnya. Karena kan sudah sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP)," ungkap Robin. Robin pun berharap teknologi hatchery ini bisa mengatasi masalah pembenihan di alam yang sulit dihitung dan diteliti. "Kepiting, jika sudah bertelur langsung menyebar, sehingga sulit mendapatkan yang kecil. Bahkan, angka kehidupan juga sulit dihitung,” bebernya. Untuk itulah, Robin mengungkapkan bahwasanya sudah melakukan restocking untuk membudidayakan anakan kepiting di lokasi pertambakan, agar tidak bergantung kepada hatchery Jepara terus sehingga hatchery Tarakan dapat mandiri,” tuntasnya. (JFD)

REDAKSI 
Bagikan:
Selanjutnya
Ini adalah berita terbaru.
Sebelumnya
Posting Lama

Redaksi Pena Kaltara

Komentar Anda: