Last Updated 2018-05-17T19:01:02Z
TARAKAN, penakaltara.com - Pengacara Kelompok Tani dan Nelayan Bina Bahari, Jerry Fernandez, SH.,CLA, menganggap tudingan hakim yang menyebut dirinya seorang pengacara 'kemaren sore' dan abal-abal merupakan penanda bahwa hakim tersebut justru telah kehilangan akal. 

Bagaimana tidak, Jerry menilai tidak sepantasnya hakim menyerang individu lain yang datang ke tempatnya mengabdi (Pengadilan-Red) sebagai orang yang mencari keadilan namun kemudian di'hempas'kan serendah-rendahnya sehingga terhina di hadapan publik. 

"Hakim seolah sengaja mendiskreditkan profesi saya sebagai Advokat dihadapan khalayak terlebih itu prinsipal saya sendiri," kata Jerry saat ditemui Penakaltara.com di bilangan Kampung 1/Skip, Tarakan Tengah, Kamis (17/05).

Dalam pada itu, hal-hal yang disampaikan oleh hakim di persidangan rabu (16/05) lalu tersebut justru menunjukkan sikap tidak profesional atau unprofesional conduct, jauh dari nilai obyektifitas serta cenderung tidak bijaksana. "Sungguh saya tidak menyangka seorang hakim di persidangan sanggup mengeluarkan kata-kata seperti itu, bukannya mengomentari pokok perkara, malah menyerang diri pribadi saya secara gamblang," sesal Jerry.

Sebagaimana diketahui, lanjut Jerry, tanpa dasar Hakim Kurniasari Alkas menyebut dirinya 'Pengacara Kemaren Sore' dan 'Pengacara Abal-Abal' di sela-sela pemeriksaan saksi dalam persidangan. Hal itu menurut Jerry sama saja menyerang institusi dimana ia mengenyam pendidikan hukum, pendidikan profesi dan melakukan penyumpahan. 
"Kampus saya (FH Universitas Pancasila), Organisasi Advokat (Kongres Advokat Indonesia) tempat saya bernaung dan Pengadilan Tinggi Jakarta tempat saya disumpah dapat diartikan telah mencetak Advokat Abal-Abal dan tak tau aturan hukum oleh Ibu Kurniasari Alkas yang mulanya cukup pantas saya segani itu," tukas Jerry.

Pada kesempatan wawancara itu, Jerry mempertanyakan kemana hilangnya akal seorang hakim yang seolah tanpa rasa bersalah berani mendiskreditkan dirinya yang notabene sama-sama menyandang predikat Officium Nobile (Profesi Mulia).

 "Tidak boleh dong kok sesama profesi mulia menyudutkan seperti itu, tendensius sekali lho itu, jika tak bisa menyanggah apa yang saya sampaikan secara hukum jangan memaksakan diri untuk lantas menyudutkan dong, kalau saya balik tuding dia adalah hakim yang dungu dan tidak profesional kira-kira bagaimana?," tandas Jerry.

Terlebih yang sungguh disesalkan, Hakim Kurniasari Alkas pun sesukanya melakukan intervensi dengan menyarankan saksi (dari Penggugat) untuk mengganti pengacara. "Apakah boleh dalam persidangan hakim menyatakan dan menyarankan hal seperti itu? Masih tidak habis fikir saya, malah saya pula yang dituding memanipulasi dan tak layak jadi pengacara Bina Bahari," sesal Jerry. 

Banyak hal yang Jerry nilai menimbulkan kesan keberpihakan majelis hakim dengan pihak Tergugat (SKA). "Salah satunya adalah keberatan tergugat yang langsung ditanggapi oleh majelis disertai perintah kepada panitera untuk segera dicatat, sedangkan keberatan dari pihak kami, panitera diam saja tidak disuruh mencatat," kisah Jerry.

Disamping itu juga, Jerry mengaku dalam persidangan majelis hakim kerap kali mengarahkan saksi dengan pertanyaan-pertanyaan menjebak yang sesungguhnya menguntungkan Tergugat. "Kalo disanggah ya itu, dihina dan disudutkan saya," aku Jerry.

Selain itu juga Jerry Fernandez mengklaim ada keanehan dalam tiap agenda persidangan. Sebab, seharusnya yang beradu debat adalah pihaknya dengan Tergugat (Kuasa SKA). "Ini kok malah hakim yang seolah bertindak sebagai pihak dalam perkara," ujar Jerry keheranan.
** 

RICORNIUS JEFERSON ANTONIO DAO
Bagikan:

Redaksi Pena Kaltara

Komentar Anda: