Last Updated 2018-04-07T14:07:46Z

Pidana Kepiting, Kepiting Jahat, Kejahatan Karantina, Kepiting Dipidana


Ramadhan Als Dani Bin Mastua, Motoris yang mendekam di penjara karena mengangkut kepiting. Kini, ia terpaksa harus berpisah dengan istri dan anaknya. Dani terus berupaya agar keadilan dapat juga memihak kepadanya.
Tarakan, PenaKaltara.com - Ramadhan Als Dani Bin Mastua tampaknya tak mau menyerah begitu saja kendati kembali kalah di tingkat banding. Dani yang merupakan terdakwa atas jeratan tindak pidana tentang karantina ini mengaku siap menghadapi permintaan kasasi yang disampaikan 15 Maret 2018 lalu.

Diketahui, Dani adalah satu-satunya terdakwa yang dijerat pidana lantaran kedapatan petugas sedang mengangkut 53 (lima puluh tiga) Koli bermuatan kepiting bertelur yang mana dikabarkan akan dibawa ke Sungai Nyamuk untuk kemudian dibawa ke Tawau, Malaysia.

Oleh Jaksa Penuntut Umum, Dani didakwa telah melanggar pasal 31 Jo. pasal 6 UU No. 16 tahun 1992 tentang Karantina Ikan, Hewan dan Tumbuhan yang tercatat sebagai Dakwaan Kedua. Dakwaan kesatu baginya disinyalir karena telah melanggar ketentuan UU 31 Tahun 2004 sebagaimana diubah dengan UU 45 Tahun 2009 tentang Perikanan. Namun majelis hakim PN Tarakan dalam pertimbangannya lebih memilih dakwaan kedua karena dianggap paling mendekati fakta hukumnya.

Di tingkat pertama, Dani akhirnya divonis bersalah telah mengangkut kepiting tanpa disertai dokumen dalam hal ini sertifikat kesehatan yang diwajibkan oleh undang-undang dengan pidana penjara 1,4 Tahun Penjara. Meski lebih ringan dari tuntutan jaksa yang menuntut 2 Tahun Penjara, Dani tak puas dan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Kalimantan Timur pada 13 Februari 2018 hingga diputus kalah pada 13 Maret 2018 dengan amar putusan PT yang pada intinya menguatkan putusan PN.

Tak mau keduluan lagi, selang 2 hari putusan Jaksa pun dengan segera mengajukan permintaan Kasasi melalui Panitera PN Tarakan. Bersamaan dengan itu, Dani melalui kuasa hukumnya kerap kali mengajukan pelepasan tahanan demi hukum kepada Pengadilan Tinggi dan juga Kalapas Tarakan karena dianggap tidak memenuhi syarat obyektif dan subyektif penahanan sesuai undang-undang, meski tetap tidak membuahkan hasil. 

Melalui kuasa hukumnya, Jerry Fernandez, SH.,CLA, Dani pun menyatakan siap menghadapi permintaan kasasi dari Jaksa Penuntut Umum. Jerry berkeyakinan bahwa PT telah salah dalam menerapkan hukum/telah menerapkan hukum tidak sebagaimana mestinya, telah mengadili dengan cara yang tidak sesuai undang-undang serta telah melampaui batas wewenangnya.

Sementara, Jaksa dalam memori kasasinya berkeberatan karena PT telah menjatuhkan putusan lebih ringan dari tuntutannya dan melampaui tuntutan dengan menetapkan barang bukti kapal dirampas untuk dimusnahkan. Padahal, pada tuntutannya terhadap kapal pengangkut Jaksa meminta hanya diputus dengan amar "..Dikembalikan Melalui Terdakwa..".

Rencananya, Kontra Memori Kasasi akan dimasukkan selambatnya hari rabu mendatang.  "Sejak awal kita memang sudah siapkan itu, namun memang kita sedikit memberikan fokus perhatian lebih terhadap penahanan Dani yang kami nilai bertentangan dengan hukum acara," kata Jerry.

Pada sesi akhir wawancara, Jerry berharap penegakan hukum khususnya bagi nelayan kecil hendaknya mengedepankan asas ultimum remidium. Dalam arti, sanksi pidana haruslah dijadikan upaya terakhir setelah upaya lain seperti sanksi administratif dirasa tidak mampu memberikan nilai keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan.

Sedangkan dalam kasus ini, Jerry beranggapan bahwa perbuatan Dani bukanlah merupakan perbuatan yang layak diberikan sanksi pidana karena dinilai terlalu terburu-buru dan memaksakan bilamana diklaim sebagai suatu kejahatan berbahaya yang dapat menimbulkan ancaman keselamatan jiwa. "Sungguh tak memenuhi asas subsidaritas (tidak ada pilihan lain) karena masih banyak sanksi administratif dan bahkan diatur secara tegas dan rinci pada aturan pelaksanaan sbagai turunan dari UU Karantina Ikan," tutup Jerry.

REDAKSI
Editor : Bobby Furtado
Bagikan:

Redaksi Pena Kaltara

Komentar Anda: