Last Updated 2018-01-03T16:06:18Z

Foto : Direktur PDAM Kota Tarakan, Usman Assegaf
TARAKAN, PenaKaltara.com -  Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Tarakan dalam hal ini cukup gentlement. Betapa tidak, dalam keterangan pers kepada PenaKaltara.com, PDAM mengakui secara jelas bahwa pihaknya tak kunjung menyasar target yang ditetapkannya sendiri. Padahal, diakui pula bahwa bahan baku untuk pencapaian target sudah tersedia. Hanya saja, PDAM sempat beralasan bahwa keterbatasan sumber air baku patut dijadikan faktor utama atas lemahnya pencapaian target tersebut.


Pengakuan itu disampaikan langsung oleh Direktur Utama PDAM Kota Tarakan, Usman Assegaf ketika ditemui awak media ini di ruang kerjanya beberapa waktu lalu. Dalam pengakuannya, Usman mengatakan bahwa target instalasi sambungan air di tahun 2017 ini hanya mampu mencapai kisaran 56 hingga 59 persen saja dari keseluruhan jumlah pemukiman penduduk yang ada di Kota Tarakan.  Di tahun 2015, lanjutnya pihaknya hanya mampu mencapai angka 21 ribu sambungan air, sedangkan di tahun 2016 dan 2017 bertambah sedikit menjadi 24 ribu sambungan. Dalam hal ini pihaknya mengklaim terdapat penambahan sekitar 3 ribu sambungan dalam satu tahun. "Padahal target kita 5 ribu sambungan, hanya terealisasi segitu," ungkap Usman.

Faktor utama yang menjadi penyebab sulitnya PDAM mencapai target tersebut menurut Usman adalah karena sumber air yang masih terbatas. Keterbatasan tersebut sesungguhnya lantaran tidak adanya lahan dan juga danau untuk membangun sebuah respoar, kata Usman. "Maka dari itulah tidak semua wilayah kami aliri air, apalagi daerah pegunungan," tandas Usman.

Atas adanya faktor tersebut, bagi Usman sangatlah cukup beralasan bagi PDAM untuk belum menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Apalagi katanya tarif air di Tarakan masih tergolong yang paling rendah diantara kota-kota lainnya. "Tarif kita masih Rp1100," ujarnya. Butuh waktu yang cukup lama bagi Kota Tarakan untuk dapat menghasilkan pendapatan dari pengadaan air yang merupakan hajat hidup orang banyak ini. Usman beranggapan bahwa di tahun 2018 pihaknya hanya mampu melakukan pengembangan terus-menerus dengan target diatas 70 persen sedangkan di Tahun 2019 bisa diatas 80 persen. "Sudah sangat bagus dan sangat baik itu kenaikannya kalo bisa tercapai," tutur Usman berpendapat.

"Untuk kemudian pada akhirnya nanti di tahun 2025, karena sudah ada bahan baku, PDAM membutuhkan dana sekitar 2 Triliun untuk jaringan seluruh Tarakan," tukas Usman.

Meskipun dikatakannya bahwa seluruh anggaran PDAM berasal dari APBN dan dianggap sehat tanpa hutang, namun Usman mengakui ketidaksanggupan pihaknya dalam memberikan keuntungan bagi negara. "Saat ini kita belum bisa berbuat apa-apa, kenaikan tarif harus ada persetujuan semua pihak," tutupnya.

ADI KUSTANTO

Editor : Bobby Furtado
Bagikan:

Redaksi Pena Kaltara

Komentar Anda: